Jumat, 24 Oktober 2008

Jihad Bukan Sekadar Perang

Disertasi Doktor Andian Parlindungan


Penyebutan jihad dengan disertai fi sabilillah adakalanya mengandung arti qital dan adakalanya mengandung pengertian semua pekerjaan yang diperuntukkan buat umat Islam.


Siapa tak kenal al-Thabathabai, ulama Syiah kontemporer asal Iran? Meski dari kalangan Syiah, namun ia berbeda pendapat dengan ulama Syiah lain dalam hal jihad sebagai doktrin Islam. Menurut Dr Andian Parlindungan, al-Thabathaba’i memahami jihad tak hanya sebagai aktivitas perang atau angkat senjata. “Tapi mencakup semua aspek kehidupan manusia, termasuk bidang sosial budaya,” kata Andian dalam disertasi "Konsep Jihad al-Thabathaba’i dalam Tafsirnya ”al-Mizan”.

Ulama Syiah umumnya meletakkan jihad sebagai dasar gerakan perjuangan. Jihad menurut mereka adalah kewajiban untuk menjaga penindasan agama, politik, dan kehidupan sosial. ”Praktiknya menyeru kaum Muslimin di dunia, khususnya kawasan Teluk, agar bangkit melawan para penguasa yang tidak Islami,” kata Andian.

Imam Musa Sadr, misalnya, seorang pemimpin religius kharismatik kelahiran Iran yang pindah ke Libanon, telah memimpin gerakan sosial yang besar. Gerakan umat Islam yang menuntut adanya kesetaraan bagi kaum Muslimin di tengah-tengah masyarakat Libanon yang didominasi oleh masyarakat Kristen Maronit.

Beberapa ulama modern Syiah seperti Ayatullah Mahmud Taleqani dan Murtadha Mutahhari, berargumen bahwa jihad adalah pembelaan diri atas nyawa, keyakinan, harta, serta integritas umat Islam. Pembelaan tersebut bagi Muthahhari, dimaknai sebagai perlawanan terhadap penindasan. “Penindasan agama yang terjadi pada masyarakat Islam atau non-Islam harus dilawan, dan perlawanan tersebut adalah jihad,” ujar Andian mengutip Muthahhari.

Namun ini sangat berbeda dengan al-Thabathaba’i. Perbedaan di atas, menunjukkan bahwa al-Thabathaba’i keluar dari mainstream ulama Syiah umumnya yang banyak menempatkan jihad sebagai sebuah perang atau angkat senjata. Meskipun pada tradisi Syiah tak dibenarkan melakukan jihad ofensif, dan yang dibenarkan hanyalah jihad defensif, yaitu kewajiban membela umat Islam dari ancaman dan penindasan.

Andian menguraikan bahwa istilah jihad dalam al-Qur’an banyak disandingkan dengan fi sabilillah (di jalan Allah). Hal ini menunjukkan bahwa jihad harus berorientasi pada upaya pencarian ridha Allah, bukan sekadar berjuang tanpa dibarengi niat yang tulus. Sebab papar Andian, jihad memerlukan pengorbanan yang besar; jika tidak dilakukan secara ikhlas, maka jihad menjadi amal yang sia-sia.

Dalam pandangan al-Thabathaba’i, jihad tak selalu berarti qital atau perang, sebab untuk mengajak umat manusia berada di jalan Allah dapat dilakukan dengan jalan damai tanpa paksaan dan kekerasan. Andian merujuk al-Thabathaba’i dalam tafsirnya al-Mizan, bahwa jihad pada ayat-ayat Makkiyah menunjukkan pengertian persuasif, yaitu mengajak orang bertauhid, menjalankan kehidupan secara benar, dan memerangi kejahiliahan. Sedangkan jihad pada periode Madinah, kata Andian, mengandung pengertian perang dan usaha keras dengan mengorbankan segala kemampuan untuk mencapai tujuan di jalan Allah.

“Pemberlakuan jihad dengan arti perang tak selamanya dibenarkan, sebab perang hanya dapat diberlakukan terhadap kaum kafir yang menentang Rasulullah SAW, dan kaum munafik yang murtad dan memerangi umat Islam,” papar alumnus Pondok Modern Gontor, 1988, ini. Sedangkan jihad dalam pengertian perang semata-mata untuk kemaslahatan sosial dan menegakkan kalimat tauhid, bukan sebagai tindakan kekerasan.

Tiga karakteristik
Andian menyimpulkan, setidaknya ada tiga karakteristik jihad menurut al-Thabathaba’i dalam tafsir al-Mizan. Pertama, jihad dengan Qur’an berarti menentang orang-orang kafir dengan membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka dan menerangkan kepada mereka bukti-bukti kebenaran al-Qur’an. Kedua, jihad dengan amwal (harta), yaitu menunjukkan segala bentuk usaha di jalan Allah yang berkaitan dengan harta, seperti zakat, infak, dan sedekah. Ketiga, jihad dengan pengorbanan jiwa (nafs), mengandung arti semua usaha yang melibatkan jiwa dan raga manusia, seperti kewajiban shalat, puasa, dan haji.

Andian juga menguraikan, strategi pemberlakuan jihad menurut al-Thabathaba’i, di antaranya; jihad dengan lisan, yaitu seruan mengajak kepada jalan tauhid, baik dengan hikmah, nasihat, dan dialog. Lalu, jihad dengan tangan, yaitu amal shalih yang mendatangkan manfaat terhadap ketakwaan, perbaikan keadaan masyarakat, perhatian terhadap kehidupan para fuqara, melaksanakan zakat dan mengembangkannya. Berikutnya, lanjut Andian, jihad dengan hati, yaitu upaya mendisiplinkan diri dalam perjuangan ruhani agar tetap istiqamah di jalan Allah dengan mengerahkan segala kekuatan untuk memerangi setan dan hawa nafsu. Dan terakhir, strategi jihad dengan senjata, yaitu untuk menegakkan tauhid dan keadilan demi kemaslahatan.

Penyebutan jihad dengan disertai fi sabilillah adakalanya mengandung arti qital dan adakalanya mengandung pengertian semua pekerjaan yang diperuntukkan bagi umat Islam. “Ini termasuk pekerjaan-pekerajaan yang mendatangkan manfaat sosial seperti perbaikan jalan dan jembatan,” papar Andian. Ia menambahkan, dalam pandangan al-Thabathaba’i, strategi Jihad sosial yang terpenting adalah mengedepankan perdamaian dan persaudaraan.

jihad, sebagai usaha dan perjuangan dengan mengerahkan segala kemampuan di jalan Allah (fi sabilillah), tentu harus diaktualisasikan dalam dimensi-dimensi kehidupan sosial yang menentukan masa depan kehidupan manusia, baik dalam kehidupan individu maupun bermasyarakat. Dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan budaya.n tata septayuda

Boks

Muhasabah

Sejak kecil hidup Andian penuh perjuangan. Ketika usianya menginjak lima tahun, sang ayah meninggal dunia. Sebagai putra sulung dari empat bersaudara, Andian mau tak mau harus mengambil peran sebagai kepala rumah tangga. Setelah lulus SD, ibundanya menginginkan putranya ini melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Maka sejak 1981, dipilihlah Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Tujuh tahun lamanya ia nyantri di Gontor untuk selanjutnya memutuskan kembali ke kampung halaman dan kuliah di IAIN Medan. Di sinilah Andian mengalami perjuangan hidup. "Saat kuliah, saya tidak mendapat fasilitas layaknya dinikmati mahasiswa lain dari orangtuanya," dia menuturkan.

Tidak ada jalan lain kecuali harus bekerja sampingan untuk dapat membiayai kuliah dan juga ketiga adiknya. Suami dari Ermi Saidah ini pernah membuka kursus bahasa Arab, menjual pakaian dari rumah ke rumah, dan bekerja sebagai agen di perusahaan asuransi. "Ketika dituntut berbuat lebih banyak, saya lantas melaluinya bersama proses perenungan," katanya. Dari situlah dia melihat segala perjuangan hidup yang dilalui harus disyukuri sebagai pembelajaran dan membuatnya lebih bisa menghargai orang lain. Di sini, Andian juga harus mengatur hari-harinya untuk berdakwah.

Begitulah kemudian pada setiap kesempatan ia selalu menyampaikan pentingnya ber-muhasabah (introspeksi diri). Menurutnya, dalam kehidupan selalu ada sesuatu yang dicari oleh banyak orang. Lama kelamaan, tumbuh satu kesimpulan bahwa semua orang selama hidupnya pasti mencari 'sesuatu'. Dan sesuatu itu adalah kebermaknaan. "Tujuan dapat dicapai dengan proses perenungan dan dzikir," kata penceramah yang suka tampil di layar kaca ini.n tata


Biodata
Nama : Andian Parlindungan
Tanggal Lahir : Medan, 12 November 1968
Pekerjaan : Dosen STAIN Bengkulu dan Universitas YARSI Jakarta

Pendidikan
Pascasarjana (S3) UIN Jakarta, tamat 2008
Pascasarjana (S2) IAIN Jakarta, tamat 1997
IAIN Sumatera Utara Medan, Fakultas Syariah, tamat 1995
Institut Darussalam Gontor, Fakultas Usuluddin (1 tahun) 1989
KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, tamat 1988

Pekerjaan
Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah, 2001-sekarang
Pendiri Nurani Spiritual Training, 2006-Sekarang
Dosen Universitas YARSI, 2000-sekarang
Dosen Fakultas Tarbiyah ST-IAIN Bengkulu, 1997-sekarang
Pendiri Kursus Bahasa Arab Darussalam Medan, 1990-1994
Guru Madrasah Tsanawiyah Darul Aman Medan, 1989-1991
Guru Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1988-1989

Tidak ada komentar: