Jumat, 24 Oktober 2008

Hadis Palsu Durrat al-Nasihin

Disertasi Doktor Luthfi Fathullah
Cucu tokoh Betawi, Guru Mughni, ini menghasilkan penelitian yang mencengangkan dunia kajian Hadis: Sebanyak 30 persen Hadis dalam kitab Durrat al-Nasihin ternyata palsu.

Siapa tak kenal kitab Durrat al-Nasihin (DN). Kitab kuning kumpulan Hadis ini sangat popular di kalangan santri di Indonesia, Malaysia, India, dan Turki. Bahkan sejumlah pesantren di Indonesia, menjadikan DN sebagai bacaan wajib santri. Tapi siapa sangka sebagian Hadis dalam kitab itu ternyata palsu. Adalah Dr Ahmad Luthfi Fatullah MA, yang menguak kepalsuan Hadis-hadis tersebut. Menurut riset pria kelahiran Jakarta, 25 Maret 1964, ini 30 persen dari 839 Hadis di dalamnya ternyata berkategori palsu. Sisanya, 12,5 persen merupakan Hadis dha’if (lemah) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan hanya sekitar 57 persen yang bisa digunakan sebagai sumber hukum atau rujukan. “Jadi 42,5 persen Hadis dalam Durrat al-Nasihin tidak boleh digunakan sebagai rujukan,” ujarnya.
Contoh Hadis palsu yang terkenal di Indonesia dan terdapat di kitab Durrat al-Nasihin adalah: “Barangsiapa yang gembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka jasadnya diharamkan dari api neraka.” Luthfi berpendapat, Hadis ini tak dikenal perawinya. Dosen Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu tidak menemukan sumber Hadis tersebut yang valid sebagai sabda Nabi Muhammad SAW. Karena itu, "Saya meyakini Hadis tersebut sebagai Hadis yang tidak sahih alias palsu." Dan, itu berarti pula, belum tentu benar bahwa seseorang yang ‘hanya’ merasa gembira akan datangnya Ramadhan, diharamkan jasadnya masuk neraka.
Lutfi menyatakan pendapatnya itu dalam disertasi berjudul "Kajian Hadis Kitab Durrat al-Nashihin" yang ditulisnya guna meraih gelar doktor falsafah dalam bidang Ilmu Hadis pada Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Malaysia. Disertasi setebal 787 halaman di bawah bimbingan Prof Dr Jawiah Dakir itu telah dipresentasikannya di depan sidang promosi doktor di UKM, 27 Oktober 1999, dengan penguji Prof Dr Muhammad Radhi, Prof Dr Abdul Samad Hadi, Prof Dr M Zein, dan Prof Dr Muddasir Rosdir. Lutfi meraih gelar doktor dengan yudisium memuaskan.Selain berhasil mengantongi gelar master dalam Ilmu-ilmu Hadis ('Ulumul Hadits) dari Fakultas Syariah Universitas Yordania (1994), Lutfi selama empat tahun juga pernah secara intens bergelut dengan kitab-kitab Tafsir-Hadis karya ulama-ulama ternama, seperti Bukhari, Muslim, Nasa'i, dan Tirmidzi.
Di tambah lagi komunikasi intelektualnya sangat dekat dengan Prof Dr Nuruddin `Itr, salah seorang pakar ilmu Hadis yang sangat dikenal di dunia Arab. Dengan dasar-dasar itu, Luthfi merasa jengah melihat cara masyarakat Islam dalam menggunakan Hadis. Menurutnya, dalam mengutip sebuah Hadis, banyak ulama hanya mengandalkan ucapan "Qaala Rasulullah...", tanpa menyebut siapa perawi dan apa sanadnya. “Ini berbahaya, baik bagi pengucapnya atau pendengarnya. Kalau sebuah Hadis tak jelas perawinya, berarti itu Hadis palsu,” jelas Luthfi. Ia merasa terpanggil untuk memilih DN sebagai objek kajian yang merupakan kitab popular di Indonesia.
Luthfi mengutip penelitian Indonesianis, Martin van Bruinessen, bahwa DN kerap dijadikan rujukan di masjid-masjid, sekolah, dan terutama pesantren-pesantren di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Madura. DN pun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebanyak tujuh versi dengan penerjemah dan penerbit yang berbeda-beda. DN juga cukup populer di Malaysia, Turki dan India. Di Turki sudah diterbitkan sejak 1262 H dan mengalami beberapa kali cetak ulang. Begitu pula di Mesir (terbit pada 1264 H), Libanon (dicetak ulang pada 1993 M) dan India (dicetak pada 1281 H). Luthfi menegaskan, di mana tradisi tasawuf cukup kuat, di situlah DN mendapat tempat. Sebab, Hadis-Hadis di dalamnya cenderung lebih dekat ke tasawuf. Yang agak mencengangkan adalah hasil temuan Lutfi sendiri. Hadis yang dikutip di atas bukanlah satu-satunya Hadis palsu dalam DN dilihat dari kekuatan hukumnya. Menurutnya, setelah merujuk pada kitab-kitab ahli Hadis yang diakui (mu`tabarah), secara keseluruhan Lutfi menemukan sebanyak 251 Hadis palsu (30%). Sementara yang lemah (dha`if) 180 Hadis (21,5%), amat lemah 48 Hadis (5,7%), dan belum dapat dipastikan sebanyak 56 Hadis (6,7%). Adapun Hadis yang shahih sebanyak 204 Hadis (24,3%), shahih lighairihi 12 Hadis (1,4%), isnad-nya shahih 2 Hadis (0,2%), hasan 67 Hadis (8%), dan hasan lighairihi 19 Hadis (2,2%).
Berdasarkan studinya itu, Luthfi menyarankan agar umat Islam lebih hati-hati dalam menggunakan Hadis. Menurutnya, DN perlu direvisi dengan penjelasan-penjelasan seperlunya. Misalnya ada keterangan Hadis ini shahih, Hadis itu palsu, dha`if, dan sebagainya. Bisa juga dibuat edisi mukhtashar-nya dengan membuang semua Hadis palsu atau yang tak jelas sumbernya. Ini mendesak dilakukan, mengingat sudah begitu terkenalnya kitab DN di masyarakat, sementara kritisisme masyarakat sendiri sangat minim terhadap Hadis. "Kalau dibiarkan berarti kita melestarikan kepalsuan Hadis-Hadis," tegas Luthfi.

Belajar di perpustakaan
Alumnus Pondok Modern Gontor 1983 ini mulai menekuni Ilmu Hadis sejak 1985. Setamat dari Pondok Modern Gontor, ia sempat masuk di SMU. Namun peneliti pada Forum Kajian Kitab Kuning ini hanya beberapa saat menikmatinya karena keburu mendapatkan beasiswa ke Damaskus (Damascus University) Syria. Kendati dirinya masuk Fakultas Syariah, namun sebagian besar waktunya digunakan mendalami seluk beluk Hadis sehingga kecintaannya tentang Hadis lebih terpupuk. Di Damaskus, ketua Persatuan Pelajar Islam (PPI) Syria, 1986, itu mengoptimalkan waktu kuliah untuk mendalami pelajaran di kampus.
Waktu di luar jam kuliah ia gunakan untuk mengkaji al-Qur’an, tafsir dan Hadis dengan arahan seorang ulama Syria.Melihat bakat dan ketekunan Luthfi, ulama tersebut merekomendasikan untuk belajar ke Jordania. Pada waktu itu ia belum menerima ijazah S1-nya. Hanya berbekal surat rekomendasi itu, suami Jehan Ashari, wanita keturunan Syria-Indonesia, ini melanjutkan pendidikan ke Jordan University dan lulus tahun 1994. Alasan Luthfi mendalami Ilmu Hadis, karena di Indonesia sangat jarang yang menguasainya. Ia berguru Hadis, mengkaji Shahih Muslim, pertama kali kepada Syeikh Syaukat al-Jabali. Kebetulan ia tinggal dekat rumah syeikh saat masih kuliah S1 di Damaskus, Syria. Kedua, ia mengaji kepada Syeikh Husein Khattab. Untuk Shahih Bukhari, Luthfi mengaji selama 5 tahun kepada Syeikh Musthafa. Dan juga dengan Syeikh Kuraim Roji, meski tidak terlalu lama karena waktunya berbarengan dengan pengajian dengan Syeikh Ramadhan al-Buthi.
Bila di Syria Luthfi belajar Hadis dari ulama, di Jordania Luthfi banyak belajar dari perpustakaan. Tak heran jika wakil koordinator Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orsat Amman, 1993-1994, itu mampu menghafal seluruh buku perpustakaan. Bahkan Direktur Perguruan Tinggi Islam al-Mughni Jakarta itu hafal benar judul buku, warna sampul, dan posisi buku yang berurutan di rak. Ini memudahkan penghafalan Hadis secara kaffah.Tesis masternya bertajuk Tahqiq Rasum al-Hadis fi al-ulum al-Hadis wa Dirasah setebal 825 halaman dengan 600 referensi dan manuskrip berumur ribuan tahun dari 5 negara yaitu Turki, Jordania, Syria, Malaysia, dan Indonesia. Setelah S2 di Jordania, Luthfi melanjutkan program doktor (S3) di Universitas Kebangsaan Malaysia.
Luthfi menghabiskan masa pendidikannya di Malaysia selama empat tahun (tiga tahun untuk menyelesaikan pendidikannya dan setahun untuk masa promosi gelar doktor). Metode pendidikannya kini ia terapkan kepada mahasiswanya di UIN Jakarta.Ia tak pernah tanggung-tanggung memberikan pekerjaan rumah bagi mahasiswanya. Pada awal perkuliahan Luthfi biasa meminta mahasiswa untuk mendata 1.000 Hadis dari perpustakaan. “Saya bisa menunjukkan judul, warna buku, dan letaknya di rak. Jadi tak ada alasan untuk mengelak dari tugas saya,” paparnya. Karena itu tidak sedikit mahasiswa yang mengeluh. Tapi, “Banyak juga yang berterima kasih dengan pola pendidikan saya,” ujar Direktur Pusat Kajian Hadis al-Mughni ini.n

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Hati2 Untuk memvonis pengarang buku Durrat al-Nasihin sengaja memasukkan hadits palsu yg sangat banyak jumlahnya... siapa tahu ilmu kita yang belum sampai untuk mengetahui kebenarannya... (BILA memasukkan hadits palsu sama saja SENGAJA membuat buku karangannya tidak diakui/tidak dipakai,,, karena akan dibaca oleh orang2 sholeh dan berilmu lainnya yg pasti akan mengetahui apabila hadits yang dia masukkan palsu belaka) BUKTINYA SEMENJAK PERTAMA PENCETAKANNYA SAMPAI SEKARANG DIAKUI OLEH ORANG-ORANG YANG SHOLEH... Insya Allah

Angga Eka Wicaksana mengatakan...

jika semua disandarkan ilmu pasti ketemu ujungnya,saya menilai secara objektif Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, sudah mencoba melakukan pencarian namun belum menemukan derajat kesahihan namanya penelitian ilmiah jika sudah di uji sah saja untuk menyimpulkan sementara (bukan memvonis). Maka berhati-hatilah menyebarkan hadist palsu, bisa masuk kedalam kesalah satu dosa besar. Jika tidak punya ilmu lebih baik diam.