Jumat, 12 Agustus 2011

Arrisalah dan KH Maksum Yusuf



"PASAR MALAM"
Oleh: H. Tasirun Sulaiman

Saya melihatnya kembali pada senja di atas menara, segerombol anak dan guru bertekun belajar di bawah bola-bola lampu yang dipancang oleh beberapa kabel. Segerombol siswa yang lain mengambil tepat yang tidak suka keriuhan, menyalakan sebatang lilin. Segerombol yang lain memilih menyalakan lampu minyak tanah. Gemerlapan cahaya itu, yang kadang berpendar-pendar terlihat dari kejauhan seperti galaksi-galaksi di jagad raya di bawah teropong Lembang.

Tapi gugus manusia di bawah pendaran cahaya itu, dari jauh kita bisa melihatnya seperti Pasar Malam. Pasar Malam yang riuh dan menggairahkan. Seperti sebuah Pasar Malam di Brighton Pier, di sebuah tepian yang sunyi dikerumun lautan. Pasar Malam itu terlihat indah dan memesona dari ditatap dari jarak yang dibentang jauh, diintip dari liang kamera canggih. Ada kesunyian mengerumun tapi ada gairah dan semangat yang menggelora.

Pemandangn serupa terjadi pada awal paruh kedua tahun 80 puluhan, ketika sosok seorang pandu coba mulai mengartikulasi dirinya. Sosok pria pendek dengan badan tegap. Pria yang gagah dan fasih berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris. Dialah sosok K.H. Maksum Yusuf, alumnus Wali Songo kelas V yang kemudian berhasil pindah dan duduk di bangku kelas VI KMI Pondok Modern Gontor. Sebuah prestasi yang langka untuk saat itu karena seleksi masuk KMI Pondok Modern saat K.H. Imam Zarkasyie hidup sangat ketat sekali.

Sosok Maksum Yusuf adalah guru senior yang hebat. Jarang guru senior, apalagi asal Ponorogo yang mengajar bahasa Inggris. Tapi Maksum Yusuf piawai di bidang itu. Dia mengajar Grammar dengan menggunakan buku ajar : English Pratical Grammar, John Martinet. Semua siswa di Pondok Modern yang pernah duduk di kelas IV KMI Pondok Modern Gontor pasti ingat buku bersampul warna merah dan dilintasi salur hitam.

Maksum Yusuf saat masih menjadi guru di KMI tinggal di belakang kediaman K.H. Imam Zarkasyie. Dia dipercaya untuk membimbing siswa-siswa dari konsulat luar negeri. Dia juga dipercaya untuk membimbing Husnan Bey, cucu K.H. Zaenuddin Fananie.

Sosok Maksum Yusuf adalah pribadi yang bersahaja dan ramah. Dia bersemangat saat mengajar dan berceramah. Suaranya lantang dan tegas juga fasih saat berbicara bahasa Inggris. Dan,itulah sosok guru yang mencoba menginjeksi semangat kepada siswa-siswanya.

Selain kepiawainnya dalam berbahasa Inggris, sosoknya juga menggemari kepanduan. Kepanduan di Gontor sudah lama sekali menjadi ekskul yang banyak diminati. Hari Kamis selepas salat Dzuhur suara-suara melengking nyanyain kepanduan menyeruak di setiap ponjok asrama. Nyanyian kepanduan menyemangati jiwa-jiwa siswa dan mengajaknya bersuka cita dalam kepanduan melepaskan beban seminggu belajar yang melelahkan.

Kita bisa maklum melihat lukisan Boden Powell, Agus Salim dan K.H. Ahmad Sahal yang dikenal sebagai bapak para Pandu itu. Lukisan mereka bertenger di depan markas Koordinator Kepramukan dan di Gedung Aula Pertemuan ( BPPM ).

Maksum Yusuf menggemari kepanduan sesuai dengan pribadinya yang bersemangat dan berani menerjang penghalang dan rintang. Kegemarannya juga telah memberinya prestasi yang hebat, Maksum Yusuf pernah dikirim ke Mesir untuk memimpin kontingen Pondok Modern Gontor di Jamboree Internasional itu. Bagi sosok maksum yang memiliki ketrampilan berbahasa Inggris dan Arab seimbang dan jiwa semangat hadiah kepercayaan itu sangatlah pas.

Saat masih mengajar di Pondok Modern Gontor, Maksum Yusuf tidak seperti kebanyakan menaiki motor, tapi memilih menggayuh sepeda laki. Kebiasaan itu juga terus dijalaninya hingga dia harus merentas Pondok Pesantren Ar Risalah di desa Slahung, kecamatan Jetis. Lokasi pondok peantren Ar Risalah kurang lebih 7 km dari perempatan Jetis, ke arah selatan. Dengan menggayuh sepeda kurang lebih 2 jam dari Pondok Modern Gontor kita akan sampai ke kampus pondok Ar Risalah.

Masa-masa pertama kali sosok Maksum Yusuf merintis Ar Risalah menyerupai kegiatan kepramukaan. Berawal dari bebarapa siswa yang diambil dari sekitar rumah keluarga Maksum Yusuf. Mereka diajar di bawah pohon-pohon bambu karena belum ada gedung, meski kadang dalam satu waktu digerombolkan balai rumah yang luas.

Tapi dari bawah rimbunan pohon itu kemudian, sosok Maksum Yusuf yang pandu, menyeruak dan kemudian menyuar ke langit Ponorogo. Pesantren Ar Risalah yang pada mulanya menyerupai Pasar Malam berkembang menjadi Pondok Pesantren yang diperhitungkan. Bangunan-bangunan tergak berdiri di sana-sni dan para santri tidka lagi dari kalangan sekitar. Lalu Pasar Malam itu berubah menjadi Pasar Pendidikan yang dibanggakan.

Kita di sini bisa membayangkan militansi bagaimana seorang Maksum Yusuf yang pandu membimbing dan mendidik para siwanya. Sebagai pandu dia akan menamkan militansi kepada jiswa siswanya. Tidak mudah menyerah dan cengeng menatap kehidupan yang cepat sekali berubah-ubah. Kehidupan yang kadang tidak bisa diprediksi arah hembusan anginnya, seperti sebuah pentas politik. Tidak ada kalkulasi matematis yang bisa dijadikan alat ukur siapa yang menang dan siapa yang kalah; seseorang itu teman atau lawan.

Para Pandu seperti di ajarkan pada festival out-bound dan Perkajum ( Perkemahan Kamis-Jumat ) harus bisa menaklukan semua rintangan. Para pandu harus bisa bertahan hidup dalam kesulitan dan rintangan hidup. Dan, para pandu harus kuat ketika diterjang hujan dan badai! Para pandu harus terus bertahan mencari akal untuk survival, seraya yakin bahwa hujan dan badai pasti akan berahir.

Para pandu bisa mengumpulkan dahan dan menyalakan api ungun untuk menangkis dingin dan menghilangkan kebas. Dan lebih dari segalanya, api militansinya justru akan berkobar-kobar ketika tekanan menghimpit.

Begitulah nilai-nilai kepanduan dipacak dalam Kurikulum Pondok Modern Gontor. Tapi seperti dalam janji suci para pandu, mereka adalah Laskar Suci yang terikat oleh janji Satya Dharma. Setia kepada Kebenaran dan Kebajikan.

Di desa Slahung kini ada kemeriahan yang bisa dibanggakan. Desa Slahung yang dahulu sepi dan sunyi kini menjadi ramai karena Ar Risalah berdiri tegak di anatra mereka. Ar Risalah menjadi kekayaan dan kebanggan mereka. Ada banyak orang akan menandangi desa mereka. Akan adan banyak pejabat berkunjung ke desa mereka, dan akhirnya desa merekapun menjadi dikenal dalam peta Indonesia.

Ar Risalah, bisa saja nama Buletin yang dimotor anak Gontor di kampus UGM pada masa Orde Baru. Tapi Ar Risalah juga bisa berarti Misi Suci seperti yang dijadikan tajuk dalam filem layar lebar The Massage yang mengharu-birukan.

Kaleidoskop bagaimana agama Islam pada mulanya disebarkan. Rintangan dan halangan terus menghadang. Suku nabi Muhammad yang mestinya membela menegakkan Ar Risal malah menjadi penekan dan penghalang paling hebat. Mereka terus membuat makar untuk bisa memadamkan Ar Risalah. Tapi nabi dan para pengikutnya yang setia terus berjuang dengan tak kenal lelah dengan riang karena janji kemenangan, akhirnya bisa memenanginya. Mereka menjadi kelompok kecil yang kemudian terbukti bisa mengagetkan dunia.

Kita maklum seperti yang digambarkan dalam buku pelajaran Tarikh islam, Khalaasatul Nurul Yaqien, kalau bangasa Arab tidak memiliki budaya dan peradaban. Bangsa Arab juga sebuah banga yang lebih tepat dikatakan sebagai gerombolan dari pada sebuah bangsa. Mereka suka berperang dengan sesamanya. Tak segan hanya perbedaan pendapat atau berebut tanah, darah dikucurkan.

Tapi Ar Risalah terlah mengubahkanya yang tak dikenal menjadi kekuatan. Yang tidak diperhitungkan menjadi penguasa yang disegani.

Kerja keras dan militansi Nabi dan para sahabat telah berhasil menjadi kekuatan yang tidak bisa dihadang oleh kekuatan apapun; gertak para pembesar Quays, yang ingin berkuasa dan juga para pemimpin suku yang merasa tersaingi oleh reputasi Nabi karean berhasil menciptakan keteraturan di Madinah.

Sepengal sejarah adalah pengulangan. Perang Troy yang melegenda seperti dalam kisah kepahlawanan Homeros akan terulang. Kisah bagaimana jejak sejarah dalam Iintas Politik Islam juga akan mengisar dan terulang. Manusia pada akhirnya hidup untuk kembali mengulangi drama-drama lama yang sudah dipentaskan: memilih menjadi lakon antagonis atau protagonis. Sang Sutradara Agung tidak pernah memaksakan kuasa-Nya. Manusia punya hak dan kebebasan. Bahkan Alquran selalu mengajak kita semua untuk terus maklum kepada nasib dan takdir kita: lihatlah bangsa-bangsa yang ambisius dan hendak membungkan dan memusnahkan sesamanya.

Nyaris menjelang setengah abad Ar Risalah tegak berdiri. Bola-bola lampu itu tidak lagi dipancang oleh kabel yang melintas di antara tiang-tinag bambu. Lilin dan lampu minyak mungkin saja sudah disisihkan. Tapi semangat yang merentas pendirian Ar Risalah pastilah nyala apinya masih menjilat-jilat di balik dada Maksum Yusuf yang pandu.

3 komentar:

Belajar mengatakan...

Subhanallah..

Nekad Traveler mengatakan...

Allah Allah Allahu Akbar

Nekad Traveler mengatakan...

salut bercampur terharu